Tangan Permen

Mengutip perkataan dokter Aisah Dahlan,

Anak laki-laki dalam usia 3-4 tahun, perkembangan otak kanannya lebih cepat daripada otak kiri. Salah satu peran otak kanan adalah dalam gerakan anggota tubuh. Jadi. biasanya sering ditemukan anak laki-laki menggunakan tangan (contoh: pukulan) dalam komunikasinya.

Kalimat itu terngiang begitu sampai di rumah, terlihat Nara lebih ringan menggunakan tangannya.

Nara kan perempuan? 

Ya benar. 

Karena ada satu lagi kalimat yang mengingatkan saya, 

Children see children do.

Teman bermain Nara di lingkungan rumah ada anak laki-laki yang memang sedikit aktif tangannya, itu bisa jadi ditirukan oleh Nara. karena saat menyentuh AYahnya sedikit keras, Nara menirukan mimik anak itu.

Malam harinya, sebelum tidur, melihat baju tidur Nara yang bergambar permen, Ibu mulai bercerita.

Pada suatu hari, ada 4 permen sedang bermain bersama. Keempat permen itu adalah si Merah, si Coklat, si Kuning, dan permen si payung. 

Si Merah dan si Coklat sedang bermain bersama. Mereka bermain lego. Lego itu ada yang berbentuk rumah, ada yang berbentuk mobil, ada pula yang berbentuk jagung. Mereka menyusun lego dengan rajin dan saling membantu. Ketika asyik bermain lego, tiba-tiba si Payung datang dan merusak lego yang sudah disusun tekun oleh si Merah dan si Coklat.

“Payung, kenapa kamu merusak lego kami?” tanya si Merah.

“Iya, ini kami sedang bermain. Kalau kamu mau ikut bermain, katakan dengan santun.” tambah si Coklat.

Si Payung hanya terdiam, dengan sengaja melempar lego yang ada di tangannya dan keluar menuju si Kuning.

Si Kuning sedang asyik bermain sepeda. Sepeda biru yang baru saja diberi oleh Ayah si Kuning. Ketika si Kuning sedang berlatih menyeimbangkan sepeda, tiba-tiba si Payung mendorong si Kuning sampai terjatuh.

Si kuning kaget dan meringis kesakitan.

“Payung, kamu kenapa tiba-tiba mendorongku?” tanya si Kuning.

“Aaaahhhh!” si Payung hanya berteriak marah tanpa sebab, “Dasarr kamu!!” lanjut si Payung.

Si Kuning yang kebingungan berusaha berdiri lagi.

“Payung kamu mau pinjam sepeda aku?” tanya si Kuning.

Si Payung hanya terdiam dan masih terlihat marah.

“Payung, kalau kamu ingin meminjam sepeda. Bilang dengan santun. Tangan itu Allah berikan supaya kamu membantu sesama.” kata si Kuning.

Si merah dan si Coklat bergabung.

“Hai Kuning, bolehkah aku pinjam sepeda?” tanya si Merah.

“Boleh Merah, silahkan.” jawab si Kuning.

“Lihat Payung, si Kuning dengan senang hati meminjamkan sepeda. Kami tadi juga mau mengajakmu bermain.” tutur Coklat.

Kuning berkata, “Allah menyukai anak-anak yang menggunakan tangannya untuk kebaikan. Misalnya membantu Ibu, membantu Ayah, bermain bersama.”

“Emmmmm, maaf.” Kata maaf akhirnya keluar dari mulut si Payung.

“Aku akan bilang dengan santun jika ingin bermain bersama teman-teman.”

“Ayo kita bermain bersama!” sambut Merah, Kuning dan Coklat bersamaan.

Ibu segera mengakhiri cerita karena Nara sudah terlihat sangat mengantuk. Ibu pun berkata, 

“Jadi Nara, tangan itu untuk membantu Ibu, membantu A.???”

“Yah. “ jawab Nara.

“Iya. Allah menyukai Anak Baik, anak Sholeh..?”

“Solehah.” Nara menjawab dengan berbinar

“Betul sayang.” timpal Ibu

#GrabYourImagination
#KuliahBunSayIIP
#Level10
#MembangunKarakterAnakMelalui Dongeng
#Tantangan10hari

Leave a Reply