Menyapih dengan Dongeng???

Ide ini muncul begitu saja karena memang saya ingin menyapih Nara tanpa paksaan. Ketika tepat berusia 2 tahun, jujur saya akui, saya sendiri yang belum siap menyapih. Saya masih sangat menikmati proses menyusui dan bonding selama proses menyusui itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca artikel dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, kurang lebih dalam artikel itu ada kalimat yang cukup mencubit saya.

“masa menyusui itu adalah masa terbaik untuk dikenangkan, namun bukan untuk dikangenin”

“ sesungguhnya menyapih bukanlah melepas bonding, melainkan justru mempererat bonding dengan cara yang berbeda.”

Keinginan untuk menyapih dengan cinta (weaning with love) semakin besar. 

Yang menjadi tantangan adalah, cara menyapih atau cara memberikan pengertian kepada anak khususnya. Bagi saya saja belum bisa menemukan kenapa harus disapihnya. Jujur saya masih bingung sampai detik ini ketika menjelaskan kepada Nara. Kalimat yang terucap biasanya hanyalah afirmasi seperti,

“Nara sudah besar, jadi sudah tidak nenen.” 

Mungkin karena saya pun mengucapkan dengan keraguan, jadi pesan ragu itu tersampaikan ke Nara. Hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Kelas Bunda Sayang #4, Institut Ibu Profesional sudah memasuki level 10. Di level ini, kami ditantang untuk Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng. Tantangan ini akan saya manfaatkan untuk mendongeng tentang proses menyapih anak.

Hari ketiga tantangan, ibu sudah merancang dongeng atau cerita tentang Sapi yang sudah Besar. Ketika maghrib tiba, raut muka Nara terlihat sudah sangat mengantuk.

Melihat hal itu, saya pun memutuskan untuk mengundur dongeng tentang menyapih. Selain itu juga, jalan cerita masih mengambang. Hehehe…

Semoga besok bisa memberikan dongeng tentang menyapih. 

Aamiin.

#GrabYourImagination
#KuliahBunSayIIP
#Level10
#MembangunKarakterAnakMelaluiDongeng
#Tantangan10hari

Sumber: https://aimi-asi.org/layanan/lihat/menyapih-dengan-kasih

Leave a Reply